akuu . perii.ituu
Pernah ku melihatnya di kala matahari menjejak langit senja dengan tapak jingga.
Matanya sekelam mimpi-mimpi buruk.
Benci menyeruak dari tubuh dan napas yang dihembuskannya.
Tertatih… dan lalu tersungkur oleh cintanya yang sangat rapuh.
Saat kudekati ia, dibukanya lebar genggaman tangannya, disodorkannya ke depan wajahku.
Bibirnya yang membiru tidak berucap.
Tapi semilir angin seolah mentasbihkan kata-kata:
“ Di sini, kugenggam erat mimpi yang kuberi judul kesetiaan. Kubiarkan cintaku melepaskan dia mencari sesuatu yang kurang dari hidupnya. Dia memberiku harapan. Dan lalu mencampakkanku tanpa bertanya. Karena menurutnya, cinta bukanlah tanya jawab”.
Pernah ku melihatnya di kala matahari menjejak langit senja dengan tapak jingga.
Matanya sekelam mimpi-mimpi buruk.
Benci menyeruak dari tubuh dan napas yang dihembuskannya.
Tertatih… dan lalu tersungkur oleh cintanya yang sangat rapuh.
Saat kudekati ia, dibukanya lebar genggaman tangannya, disodorkannya ke depan wajahku.
Bibirnya yang membiru tidak berucap.
Tapi semilir angin seolah mentasbihkan kata-kata:
“ Di sini, kugenggam erat mimpi yang kuberi judul kesetiaan. Kubiarkan cintaku melepaskan dia mencari sesuatu yang kurang dari hidupnya. Dia memberiku harapan. Dan lalu mencampakkanku tanpa bertanya. Karena menurutnya, cinta bukanlah tanya jawab”.

0 komentar:
Posting Komentar